Randomized Your Life

Mar 3

lomographicsociety:

Invisible Artist Liu Bolin Shows You How to Hide

Magicians never spill the secrets to their hat tricks. While Liu Bolin is no sorcerer, the Chinese artist is a visual wizard known for skillfully camouflaging himself into cityscapes. Here, the invisible man demonstrates his disappearing act for viewers.

robindavey:

Life as a musician just gets tougher and tougher doesn’t it? With a plethora of services all vying to bring your music to the masses, with only a promise of pittance in return, it seems like everyone is looking to scam the poor musician out of their dues. Pocketing the profits of the thousands upon thousands of Singles, EPs and Albums bestowed upon the streaming world by the music making elite every month, generating millions of plays, but leaving nothing for those who make it.

Things have changed so much from the glory days of old, when musicians were treated fairly, and reaped the rewards of their hard work.

Wait a second.

Read More

(Source: skindiemagazine)

Feb 27
Skindie Opinion: The Secret Of Success in The Music Industry Is…
Oct 17

:D —> 

(Source: iraffiruse)

Saya ingat kata-kata orang tua jaman dulu, termasuk yang sering diucapkan oleh ibu saya sendiri tentang laki-laki: ‘bukan lelaki sembarangan’ atau ‘lelaki yang sembarangan’. Kalau menuruti pakem pemahaman mereka tentang ‘bukan lelaki sembarangan’ adalah lelaki yang baik bibit bobot bebetnya, terutama karena ibu saya orang Jawa. Artinya, lelaki yang dimaksud adalah mereka yang hampir sempurna baik fisik, otak maupun tampilan sosialnya. Sementara ‘lelaki yang sembarangan’ adalah dia yang bibit bobot bebetnya tidak memenuhi standar (orang tua jaman dulu). Dan tentunya, pesan ibu saya kepada saya adalah, dengan caranya yang paling diplomatis karena kalau tidak dia tahu saya hanya akan melengos dan pura-pura mendengarkan, adalah ‘Kalau bisa, kamu jangan pernah terlibat sama lelaki yang sembarangan.’ atau ‘Mama pokoknya selalu berdoa semoga anak Mama ketemu jodoh yang bukan orang sembarangan.’ Biasanya saya akan menimpali, ‘Kalau bisa tolong doakan juga supaya dia juga seksi dan me muaskan.’ ‘Hus! Sembarangan!’ kata ibu saya sambil melotot.

Standar mereka adalah, lelaki ini harus sarjana, tidak terlalu miskin papa tapi uangnya cukup buat mama dan menyambung hidup dari bulan ke bulan, memiliki pekerjaan tetap dengan jam kerja yang teratur dan keluarga yang harmonis yang terdiri dari ibu-ayah-adik-kakak dan pembantu keluarga yang sudah turun temurun seperti keris. Sukur-sukur punya mobil dan atribut lain yang cukup membanggakan seperti misalnya usaha sampingan yang kecil, koleksi tongkat golf dari merek terkenal dan keanggotaan di sebuah klub tertentu. Giginya rapih dan kacamatanya bak Clark Kent. Cara berpakaiannya tidak menimbulkan gara-gara, tutur katanya sopan dan perilakunya santun serta banyak senyum. Umurnya *tepat* setahun atau beberapa tahun lebih tua daripada si wanita. O yah, kalau bisa, mobilnya yang AC-nya bekerja dengan baik. Seandainya dia beragama, apapun nama Tuhannya, dia harus soleh. Setidaknya, berdoa sebelum makan atau tidur. Lelaki macam ini juga bisa dipastikan memiliki kehidupan ‘jalan tol  Jakarta-Bandung’ alias lurus-lurus saja. Masa lalunya lurus. Masa sekarangnya lurus. Maka bisa dipastikan masa depannya pasti lurus juga. Kan sejarah sudah membuktikan… Mantan pacarnya pun tidak banyak. Satu atau dua, atau bahkan belum pernah berpacaran sama sekali. Namanya juga bukan pria sembarangan yang sembarangan cari pacar.

 Astaga.

Sementara, ‘lelaki yang sembarangan’ tentunya semua lawan dari yang di atas tadi. Celana robek-robek, bajunya gelap dan kalau bergambar gambarnya didominasi tengkorak atau rupa-rupa duri darah dan daging dicacah. Bicaranya blak-blakan, keluarganya berceceran di mana-mana atau istilah pasarnya: broken home. Walaupun sopan tetap saja kelihatannya nggak tulus karena rambut gondrong atau spike-nya-tatonya-tindikan di badannya sudah langsung menimbulkan antipati. Kesana kemari naik bis, angkot, ojek, taksi atau motor pribadi. Boro-boro jadi anggota klub tertentu, wong bangunnya siang ke sore dan tidurnya baru pagi. Satu-satunya klub yang mau terima dia adalah ‘klub ronda’ dan ‘klub ujung gang’ di mana dia pasti member-face seumur hidup. Lalu, satu-satunya dari dirinya yang berhubungan dengan agama adalah ketikan petugas kelurahan di kolom agama. Maka boro-boro berdoa kalau lagi senang, lagi susah saja dia pasti lebih merasa aman dengan mengeluarkan sumpah serapah. Lalu kerjanya ap a? Ya apa? Ya nggak ada. Tapi somehow, lelaki macam ini adalah pribadi yang senang membantu. Karena kalau ditanya dia lagi sibuk apa, jawabannya pasti, “Biasalah, lagi bantu-bantu temen aja.” Sampai dia menjelang 30-an kerjanya selalu membantu teman-temannya, tapi sementara itu, pacarnya juga sudah sebanyak teman-teman yang dibantunya. Seapes-apesnya dalam hal peromanan, pasti ada saja yang memperhatikannya. Entah itu anaknya ibu anu yang tetangga sebelah atau dari gang seberang atau penggemar rahasia dari jaman SD/SMP dulu. Biasanya cewek-cewek pemalu yang melihat kepribadiannya sebagai sebuah kekuatan yang bisa menutupi kelemahan mereka.

 Waduh.

Awalnya memang saya sempat termakan doktrin bibit bobot bebet bukan lelaki sembarangan ini. Malah saya sempat ekstrim. Baru mau menganggap serius seorang pria kalau dia orang Jawa. Yang lama-lama saya pikir saya terdengar bodoh. Lha wong, di dunia ini ada milyaran manusia koq bisa-bisanya saya merasa sudah sok cocok cuma sama satu jenis orang dari satu jeni suku bangsa. Akhirnya saya menyerahkan pandangan ‘Jawa minded’ saya ke masa lalu dan legenda bendara-bendara serta dongeng Ibu Kita Kartini. Pula, seiring dengan makin banyaknya buku yang saya baca dan film yang saya tonton, saya jadi makin ragu juga kalau seorang Jawa bisa mewakili konsep saya akan seorang ‘bukan lelaki sembarangan’. Karena ternyata, potensi ‘bukan lelaki sembarangan’ itu bisa ditemukan di mana saja asal dia betul-betul BUKAN LELAKI YANG SEMBARANGAN:

1. Membuang sampah

2. Memperlakukan manusia lainnya

3. Menyeberang jalan

4. Meletakkan barang-barang bukan pada tempatnya

5. Meludah di jalanan

6. Menyerobot antrian

7. Menyalip jalur orang di jalanan

8. Makan tanpa aturan di meja makan.

9. Mengeluarkan komentar-komentar yang nggak penting

10. Menghembuskan asap rokok di depan lawan bicaranya

Di mana ke-10 hal tadi masih saya temukan di banyak lelaki yang ternyata orang Jawa (maaf, ini fakta bo!) dibandingkan dengan banyak lelaki lain dari berbagai suku bangsa dan kewarganegaraan yang saya kenal. Yang akhirnya membuat saya berkesimpulan, persetan dengan hal sembarangan atau bukan sembarangan tadi, karena saya menyadari bahwa sebenar-benarnya, saya menyenangi lelaki yang ‘hidup’. Yang selalu mempunyai kegiatan. Yang tahu apa yang harus dia lakukan dengan dirinya, dengan profesinya, dengan barang-barangnya, dengan waktu luangnya, dan dengan segala aspek kehidupannya. Saya menyukai orang yang memiliki pengalaman hidupnya sendiri. Yang percaya kepada Tuhan tapi tidak mengkultuskan agamanya sehingga membutakan dirinya. Yang bisa menghormati orang tuanya tapi tetap memandang mereka sebagai manusia biasa yang kadang tidak semua yang mereka katakan menjadi mutlak. Yang seksi. Yang mempunyai bakat tertentu asal positif dan bisa jadi uang dan legal di semua negara. Yang tah u bagaimana merawat dirinya. Yang bisa dan senang membaca walaupun itu hanya spanduk di jalanan ataupun ensiklopedia seberat lemari. Yang memiliki good sense of humor. Yang menghargai orang lain dari berbagai kalangan dan suku bangsa. Yang akal sehatnya jalan. Yang bisa menghargai saya sebagai seorang individu dengan kehidupannya sendiri. Yang bisa menghargai my personal stuffs and my personal space. Yang berarti, apapun suku bangsanya, agamanya dan kewarganegaraannya, mereka harus memiliki unsur-unsur ‘lelaki yang hidup’ tadi.

Karena saya rasa lelaki yang hidup, otomatis bukan lelaki sembarangan. Sedangkan kalau hanya sekadar bukan lelaki sembarangan menurut standar ibu saya, dia belum tentu lelaki yang hidup menurut saya. Intinya, saya hidup hanya sekali, kalau bisa saya ingin menghabiskannya dengan orang yang saya cintai dalam keadaan terjaga.

~ Nataya Bagya ~

Oct 13
Notes #14: BIBIT BOBOT BEBET
Oct 9

Ernest Syarif on Guitar, Gilbert Joshua on Bass, Eno Gitara on Drums & Tamborine

Lyric:
Josephine

This is where I’ll leave it, Josephine
These are things to remind you of me
Time is incapable to stop my love, Josephine
The truth in me is the truth in you

I could’ve done everything
Everything to become you
Your denial of your lost is haunting
There is something you’re faking

This where I’ll leave it, Josephine
I draw my pain among this fear and flaw

Josephine Denies
Of everything she chose
And everything she gave away
And then where would I be?
I’m livid in my own destiny

Josephine denies it.

Oct 9

Ernest Syarif on Guitar, Gilbert Joshua on Bass & Eno Gitara on Drums

Lyric:
Love Is All You Need

Her eyes so beautiful but they seem a bit sore
In the plague of rules
She’s always sure
She is stepping onto a path that’d never be right

“Can you imagine this” She said once to me
“In nine to five life there are nothing left to feel.
Everything disappeared except emptiness”

She tried to share to the world
But they won’t listen
I told her, “It’s alright”
It’s alright

Her face so beautiful but they seem a bit sore
In this state of show
She kind of knows
She is stepping onto a path that never be right

“Can you imagine this” She said once to me
“In nine to five life there are nothing left to feel.
Everything disappeared except emptiness”

Love is all you need
Drown your blues y’see
Fly to your sky high
Love is all you need

“Can you imagine this” She said once to me
“In nine to five life there are nothing left to feel.
Everything disappeared except emptiness”

Oct 9

Ernest Syarif on Guitar, Gilbert Joshua on Bass & Eno Gitara on Drums

Lyrics:
Hilang

Aku adalah pesanmu yang luntur oleh hujanmu
Kau berbisik “aku seperti tak mengerti arah langkahmu”.

Ketika kau hentikan deru ini
Berhenti (hilang) semua janji

Kau tak mengira semua jejak hilang tak berbekas

Aku adalah pesanmu yang luntur oleh hujanmu
Kau berbisik sepertinya tak mengerti arah langkahku

Sep 24

huahahaha… :D

(Source: iraffiruse)

Sep 23

Ternyata memang betul org kita niru 100% cara hidup org arab. Tololnya serupa :D

(Source: iraffiruse)

"The best way to waste your life, is by taking notes. 

The easiest way to avoid living is to just watch. Look for the details. Report. 
Don’t participate.”

Nothing of me is original. I am the combined effort of everyone I’ve ever known.

The things you own end up owning you.

You are not your job.
You’re not how much money you have in the bank. 
You are not the car you drive. 
You’re not the contents of your wallet. 
You are not your fucking khakis. 
You are all singing, all dancing crap of the world.”

No matter how careful you are, there’s going to be the sense you missed something, the collapsed feeling under your skin that you didn’t experience it all.
There’s that fallen heart feeling that you rushed right through the moments where you should’ve been paying attention. Well, get used to that feeling. That’s how your whole life will feel some day.
This is all practice.” 

Reality means you live until you die…the real truth is nobody wants reality.

We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we won’t. And we’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.”

We’ll be remembered more for what we destroy than what we create.

"Being tired isn’t the same as being rich, but most times it’s close enough." 

Sep 18
Notes #13: Life According to Chuck & I Agree With Him

LOVE POEMS

Once I depend upon a good hint.
Like everyday people whose always had an everyday struggle moment in their lives.
If things were easy, who’d need sympathy or doting acts or even tender words?

Well, once I assumed that I know you’ll always be there for me when we ride the tantrum.
Till the tantrum dies.
And you’ll always be the one I need when I need an advice who put everything back in place when the world’s gone awry.

Sure is a rocky road when we were putting the sorry things who’s fit to be tied at our life deals. But hey we still caught ourself at the side of people with advance assimilating to every fallacies and fallible rut.

I’ll never promise you for something unreal. We’re just going to have a demure love.

Even when the story of our love life’s running thin.

Java Jr

Sep 18
Notes #12